DPD PDI Perjuangan Kalsel Gelar Nobar Ghost In The Cell, Mengupas Kritik Sosial di Balik Layar - BIDIK KALSEL

  • Membidik ke Segala Arah

    ©Bidik Kalsel

    Website Ini Telah Dilihat 13,17 Juta Kali

    Minggu, 21 Juni 2026

    DPD PDI Perjuangan Kalsel Gelar Nobar Ghost In The Cell, Mengupas Kritik Sosial di Balik Layar

    Banjarmasin -
    DPD PDI Perjuangan Provinsi Kalimantan Selatan menggelar kegiatan Nonton Bareng Film Ghost in the Cell sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno Tahun 2026, Sabtu (20/06/26).

    Kegiatan yang diikuti kader partai, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan masyarakat umum tersebut menjadi ruang refleksi bersama mengenai nilai-nilai kemanusiaan, etika kebangsaan, serta tantangan peradaban di era modern.

    Film Ghost in the Cell dipilih karena mengangkat berbagai persoalan mendasar tentang kemanusiaan, keadilan, penyalahgunaan kekuasaan, serta potret kehidupan sosial yang kerap terjadi dalam realitas masyarakat. Melalui alur cerita yang memadukan unsur horor, komedi, dan kritik sosial, peserta diajak untuk merefleksikan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan sering kali diuji oleh sistem yang tidak adil, praktik-praktik yang merendahkan martabat manusia, serta berbagai penyimpangan yang dianggap lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

    Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Kalimantan Selatan, Rizki Erimunadi, menyampaikan bahwa kegiatan nonton bareng ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari pendidikan politik dan kebudayaan yang relevan dengan semangat Bulan Bung Karno.

    "Melalui Film Ghost in the Cell, kita diajak melihat berbagai ironi sosial yang hadir di sekitar kita, sekaligus merefleksikan pentingnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberanian mengoreksi berbagai praktik yang menyimpang dari cita-cita kehidupan berbangsa, ungkapnya. 

    Rizki menambahkan, film ini mengingatkan bahwa persoalan terbesar manusia sering kali bukanlah ancaman yang tidak terlihat, melainkan ketidakadilan yang dibiarkan tumbuh dalam sebuah sistem. 

    ”Salah satu tokoh yang menarik dalam film tersebut adalah Prakasa Kitabuming, sosok yang merepresentasikan wajah kekuasaan dan otoritas dalam sistem yang penuh paradoks. Melalui karakter tersebut, Joko Anwar menghadirkan satir mengenai bagaimana kekuasaan dapat kehilangan orientasi moral ketika tidak disertai tanggung jawab, transparansi, dan keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan.” tutupnya. (Rel) 

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Silakan berkomentar tapi jangan bernuansa SARA.

    Beranda