Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, M. Syaripuddin atau Bang Dhin, menegaskan bahwa hasil monitoring di SMAN 1 Mantewe harus ditindaklanjuti melalui program dan penganggaran yang jelas.
Menurutnya, SMAN 1 Mantewe memiliki posisi strategis karena melayani kebutuhan pendidikan menengah masyarakat Kecamatan Mantewe dan wilayah sekitarnya. Karena itu, kualitas pelayanan sekolah tersebut harus mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Dari hasil peninjauan dan analisis awal, terdapat sejumlah kebutuhan yang perlu diprioritaskan, meliputi keamanan dan kelayakan bangunan, air bersih dan sanitasi, fasilitas laboratorium, jaringan internet, perangkat komputer, perpustakaan, UKS, serta pemerataan guru mata pelajaran.
Bang Dhin meminta dilakukan pemeriksaan teknis terhadap ruang kelas, atap, plafon, instalasi listrik, lantai, drainase dan fasilitas keselamatan sekolah. Apabila ditemukan bagian bangunan yang membahayakan siswa dan guru, penanganannya harus dilakukan sesegera mungkin.
“Keselamatan peserta didik dan guru tidak boleh ditunda hanya karena alasan prosedur anggaran. Jika terdapat ruang yang tidak aman, harus segera diamankan dan disiapkan langkah penanganannya,” ujarnya.
Selain bangunan, Bang Dhin memberikan perhatian khusus terhadap kualitas sarana pembelajaran. Keberadaan laboratorium, komputer dan jaringan internet harus dinilai berdasarkan fungsi, bukan sekadar tercatat dalam inventaris.
“Laboratorium harus bisa digunakan untuk praktikum. Komputer harus menyala dan dapat dipakai siswa. Internet harus cukup stabil untuk mendukung pembelajaran dan asesmen digital. Jangan sampai fasilitas tersedia di atas kertas, tetapi tidak memberikan manfaat nyata,” katanya.
Persoalan tenaga pendidik juga harus menjadi perhatian. Komisi IV meminta Disdikbud Kalsel bersama sekolah melakukan pemetaan jumlah guru, kesesuaian bidang keahlian, beban mengajar, status kepegawaian serta mata pelajaran yang masih kekurangan tenaga pengajar.
Menurut Bang Dhin, kebutuhan guru tidak cukup dilihat dari jumlah keseluruhan. Pemerintah juga harus memastikan setiap mata pelajaran ditangani oleh tenaga pendidik yang sesuai kompetensinya, terutama untuk bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Inggris, Informatika dan Bimbingan Konseling.
Ia turut menyoroti akses siswa dari desa-desa yang memiliki jarak tempuh cukup jauh. Sekolah diminta memetakan asal siswa, biaya transportasi, penerima bantuan pendidikan, tingkat kehadiran serta siswa yang berisiko putus sekolah.
“Tidak boleh ada anak di Mantewe yang kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan karena jarak, transportasi atau keterbatasan ekonomi. Pemerintah harus hadir sebelum mereka benar-benar berhenti sekolah,” tegasnya.
Bang Dhin meminta pihak sekolah menyusun daftar kebutuhan berdasarkan tiga tingkatan. Pertama, kebutuhan darurat yang berhubungan dengan keselamatan, listrik, air bersih dan sanitasi. Kedua, kebutuhan mendesak seperti rehabilitasi bangunan, laboratorium, internet, komputer dan pemenuhan guru. Ketiga, kebutuhan pengembangan berupa sarana olahraga, kegiatan siswa dan peningkatan prestasi akademik.
Data Dapodik, jumlah rombongan belajar, kondisi setiap ruangan, inventaris barang, Rapor Pendidikan, kebutuhan guru serta riwayat usulan sekolah juga harus diselaraskan agar dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan.
“Kami akan membawa hasil monitoring ini dalam pembahasan bersama Disdikbud, Bappeda dan BPKAD Provinsi Kalimantan Selatan. Kebutuhan yang berkaitan dengan keselamatan harus ditangani segera, sedangkan rehabilitasi dan pengadaan fasilitas strategis harus diperjuangkan dalam APBD,” jelasnya.
Bang Dhin menegaskan bahwa pemerataan pendidikan tidak boleh hanya menjadi slogan.
“Anak-anak di Mantewe berhak memperoleh ruang belajar yang aman, guru yang sesuai bidangnya, sanitasi yang layak, laboratorium yang berfungsi dan akses teknologi yang memadai. Jarak dari pusat pemerintahan tidak boleh menyebabkan mereka mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih rendah,” pungkas M. Syaripuddin. (Rel)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan berkomentar tapi jangan bernuansa SARA.