CSR PT Borneo Indobara (PT BIB) terus mendorong pengembangan potensi ekonomi masyarakat melalui penguatan sektor peternakan.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Penetasan Unggas yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan budidaya unggas, khususnya pada aspek pembibitan dan penetasan.
Program ini menjadi bagian dari pengembangan program peternakan yang saat ini berjalan di desa-desa Ring 1 PT BIB.
Melalui peningkatan kapasitas masyarakat, pengembangan peternakan diharapkan tidak hanya berfokus pada pemeliharaan ternak, tetapi juga mulai membangun kemampuan pembibitan secara mandiri.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, 25–27 Agustus 2026, ini diikuti oleh 45 peserta dari 17 desa Ring 1 PT Borneo Indobara yang memiliki program peternakan dan sedang mengembangkan potensi budidaya unggas di wilayah masing-masing.
Para peserta merupakan pelaku budidaya dengan komoditas yang beragam, mulai dari ayam, bebek, hingga puyuh. Keberagaman tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena peserta dapat saling bertukar pengalaman mengenai karakteristik, tantangan, dan peluang pengembangan masing-masing jenis unggas.
Untuk memberikan pembelajaran yang lebih komprehensif, CSR PT BIB menghadirkan langsung dosen dan akademisi bidang peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai trainer dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran akademisi diharapkan dapat memberikan transfer pengetahuan berbasis keilmuan kepada para peserta, sekaligus membantu menjawab berbagai persoalan teknis yang selama ini dihadapi dalam pengembangan budidaya dan penetasan unggas di tingkat masyarakat.
Selama dua hari pertama, peserta mengikuti pembelajaran di dalam kelas dengan materi yang difokuskan pada dasar-dasar penetasan unggas. Pembelajaran dimulai dari pengenalan indukan unggas yang sehat dan produktif sebagai salah satu faktor penting dalam menghasilkan telur tetas berkualitas.
Peserta kemudian mempelajari cara memilih telur tetas yang baik berdasarkan bentuk, ukuran, kondisi cangkang, serta mendapatkan pemahaman mengenai penanganan telur sebelum memasuki proses penetasan.
Materi dilanjutkan dengan pengenalan dasar pengoperasian mesin tetas, pengaturan suhu dan kelembapan, hingga monitoring perkembangan telur selama proses inkubasi.
Rangkaian pembelajaran tersebut memberikan pemahaman kepada peserta bahwa keberhasilan penetasan tidak hanya ditentukan oleh mesin tetas, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas indukan, telur, serta ketepatan dalam melakukan setiap tahapan proses penetasan.
Memasuki hari ketiga, peserta mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung penerapan budidaya unggas melalui kunjungan lapangan dan praktik. Kegiatan dilakukan di dua lokasi, yakni peternakan bebek di Desa Sebamban Lama dan peternakan puyuh di Desa Sidorejo.
Kunjungan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta untuk melihat pengelolaan peternakan di lapangan sekaligus menghubungkan materi yang diperoleh selama pembelajaran di kelas dengan praktik nyata.
Interaksi di lokasi juga menjadi ruang bagi peserta untuk menggali pengalaman dan berdiskusi mengenai pengelolaan usaha peternakan.
Salah satu tujuan utama pelatihan ini adalah mendorong masyarakat agar memiliki kemampuan untuk menghasilkan bibit unggas secara mandiri. Selama ini, kebutuhan bibit masih banyak bergantung pada pasokan dari luar sehingga penguasaan teknik penetasan menjadi salah satu aspek penting dalam membangun kemandirian peternakan.
Dengan kemampuan memilih indukan, menghasilkan telur tetas berkualitas, mengelola mesin tetas, dan melakukan monitoring proses inkubasi, peternak diharapkan dapat secara bertahap memenuhi kebutuhan bibit untuk pengembangan populasi ternak di tingkat lokal.
Kemampuan melakukan penetasan juga diharapkan dapat memperkuat rantai usaha peternakan di tingkat desa. Pengembangan tidak hanya berhenti pada kegiatan pemeliharaan unggas, tetapi dapat berkembang mulai dari penyediaan indukan, produksi telur tetas, proses penetasan, penyediaan bibit, hingga pembesaran dan produksi unggas.
Dengan terbentuknya rantai usaha tersebut, masyarakat memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan peternakan secara lebih terintegrasi dan membuka potensi ekonomi baru di tingkat desa.
Deputi COO PT Borneo Indobara, Riadi Siemka, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat program peternakan yang sedang dikembangkan masyarakat di desa-desa Ring 1 PT BIB.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mampu memelihara unggas, tetapi juga memiliki kemampuan menghasilkan bibit secara mandiri. Harapannya, pengembangan populasi ternak bisa lebih masif dan ketergantungan terhadap bibit dari luar dapat dikurangi,” ujar Riadi.
Menurutnya, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu bagian penting agar program peternakan dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat desa.
Bagi peserta, pelatihan memberikan pengalaman baru yang dapat menjadi bekal dalam mengembangkan usaha peternakan. Murjani, peserta dari Desa Jombang, mengatakan materi yang diberikan memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai proses pembibitan unggas.
“Selama ini kami lebih banyak membeli bibit dari luar. Sekarang kami mendapat pengetahuan mulai dari memilih indukan dan telur sampai menggunakan mesin tetas. Harapannya bisa kami praktikkan dan menghasilkan bibit sendiri,” katanya.
Sementara itu, Danang selaku trainer menekankan bahwa keberhasilan penetasan perlu dipersiapkan sejak tahap awal, terutama dalam pemilihan indukan dan telur tetas.
“Penetasan bukan hanya soal memasukkan telur ke mesin, tetapi dimulai dari pemilihan indukan dan telur yang berkualitas serta pengaturan suhu dan kelembapan yang tepat,” jelas Danang.
Pelatihan yang melibatkan 45 peserta dari 17 desa ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan peningkatan kapasitas individu. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan dalam program peternakan masing-masing sekaligus dibagikan kepada kelompok peternak lainnya di desa.
Kolaborasi antara CSR PT Borneo Indobara dengan akademisi peternakan IPB menjadi bagian dari upaya memperkuat transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat, sehingga pengembangan peternakan dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih tepat dan berkelanjutan.
Ke depan, penguatan kemampuan penetasan unggas diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi dalam membangun kemandirian pembibitan di tingkat desa. Dengan semakin kuatnya kemampuan masyarakat dalam menghasilkan bibit sendiri, pengembangan populasi ternak dapat dilakukan secara lebih masif sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar.
Melalui program ini, CSR PT Borneo Indobara berupaya mendorong agar potensi peternakan di desa-desa Ring 1 tidak hanya berkembang dari sisi jumlah ternak, tetapi juga mampu membangun ekosistem usaha yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan bagi masyarakat. (Rel)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan berkomentar tapi jangan bernuansa SARA.