Produksi Bandeng Dominasi Perikanan Kotabaru, Dinas Perikanan Perkuat Budidaya dan Perlindungan Nelayan - BIDIK KALSEL

  • Membidik ke Segala Arah

    ©Bidik Kalsel

    Anda Pengunjung ke 14.185.196

    Rabu, 08 Juli 2026

    Produksi Bandeng Dominasi Perikanan Kotabaru, Dinas Perikanan Perkuat Budidaya dan Perlindungan Nelayan

    Kotabaru -
    Produksi perikanan budidaya masih menjadi penopang utama sektor perikanan di Kabupaten Kotabaru. Komoditas ikan bandeng menjadi penyumbang produksi terbesar, disusul budidaya udang vaname yang terus menunjukkan perkembangan positif. 

    Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kotabaru, Zaenal Arifin, S.STP., M.Si., mengatakan hasil perikanan tangkap tidak dapat diprediksi seperti budidaya karena sangat dipengaruhi kondisi alam.

    "Produksi terbesar berasal dari budidaya, khususnya ikan bandeng. Sementara perikanan tangkap sangat bergantung pada musim, kondisi angin, dan ketersediaan ikan sehingga produksinya tidak bisa ditargetkan secara maksimal," ujarnya, Selasa (07/07/26).

    Zaenal menjelaskan, pengawasan terhadap praktik illegal fishing bukan lagi menjadi kewenangan pemerintah kabupaten sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Meski demikian, Dinas Perikanan tetap berperan melakukan koordinasi apabila menerima laporan dugaan pelanggaran dari nelayan.

    "Kalau ada kapal yang beroperasi tidak sesuai wilayah izinnya, kami akan berkoordinasi dengan pengawas perikanan provinsi, PSDKP Tarakan, dan aparat penegak hukum untuk dilakukan penindakan," katanya.

    Ia juga meluruskan informasi mengenai penggunaan cantrang. Menurutnya, alat tangkap yang kini dikenal sebagai Jaring Tarik Berkantong (JTB) masih diperbolehkan digunakan selama ukuran mata jaring lebih dari dua inci. Sebaliknya, penggunaan mata jaring di bawah dua inci dilarang.

    Di sektor budidaya, produksi udang vaname saat ini masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Setelah kebutuhan daerah terpenuhi, hasil panen dipasarkan ke luar Kalimantan, terutama ke Pulau Jawa. Salah satu sentra budidaya di Sungai Limau mampu menghasilkan panen sekitar 14 ton.

    Selain mendorong peningkatan produksi, Dinas Perikanan juga memfasilitasi penyaluran subsidi solar bagi nelayan melalui BPH Migas yang bekerja sama dengan Pertamina dan AKR. Penyaluran dilakukan berdasarkan data pada aplikasi XStar yang memuat jenis mesin kapal serta kuota BBM bersubsidi masing-masing nelayan, Namun keterbatasan jumlah SPBN menyebabkan belum seluruh nelayan dapat menikmati program tersebut.

    Pada tahun ini pemerintah daerah juga melaksanakan rehabilitasi tambak yang rusak di Stagen, Sungai Hanyar, dan Desa Sebanti, Pulau Laut, Sementara itu, bantuan budidaya air tawar dengan sistem bioflok disalurkan kepada kelompok pembudidaya di wilayah Gunung Ulin dan Stagen.

    Zaenal mengakui pengembangan sektor perikanan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan tenaga penyuluh. Saat ini, satu orang penyuluh harus mendampingi hingga tiga kecamatan. Untuk mendukung permodalan, nelayan dan pembudidaya juga didorong memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari Bank Kalsel maupun perbankan lainnya.

    Menjelang musim barat, Zaenal mengimbau nelayan agar tidak memaksakan diri melaut saat cuaca buruk demi keselamatan, Pemerintah juga terus mengembangkan alternatif mata pencaharian melalui budidaya ikan dan keramba jaring apung agar nelayan tetap memiliki sumber penghasilan ketika tidak dapat melaut.

    Selain itu pemerintah bersama DPRD Kabupaten Kotabaru terus mengupayakan perluasan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi nelayan. Saat ini, baru sebagian kecil dari sekitar 11–12 ribu nelayan di Kotabaru yang telah memperoleh perlindungan jaminan sosial karena keterbatasan anggaran. (Lana)

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Silakan berkomentar tapi jangan bernuansa SARA.

    Beranda